Apr
5
2012

SIAPKAN MENTAL MENGHADAPI UJIAN

Oleh : Drs. H.Muhammad Nur Slamet (Guru Pend. Agama  Islam di SMAN Mojoagung)

Diantara sekian banyak masalah hidup yang dihadapi semua manusia adalah ujian. Tidak hanya anak sekolah lho yang mengalaminya, semua manusia mengalaminya. Ujian bisa berupa sesuatu yang menyenangkan dan bisa juga sesuatu yang tidak menyenangkan. Kaya–miskin, sehat– sakit, kesuksesan dan kegagalan adalah sebagai contoh-contoh  ujian yang kerap dihadapi oleh manusia.

Menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam ujian sesungguhnya masuk dalam wilayah Dzauqiyah (rasa), sehingga sering kali bersifat relatif. Maksudnya, apa yang dirasakan menyenangkan oleh seseorang boleh jadi dirasakan tidak menyenangkan oleh orang  lain. Begitu pula sebaliknya.

Persoalan rasa, meskipun tetap ada sisi objektivitasnya, seringkali sangat kontekstual. Maksudnya, secara objektif gula adalah manis, banyak orang yang menyukainya. Akan tetapi jika yang merasakan orang yang sariawan rasanya menjadi lain. Bahkan akan menjadi musuh dan dijauhi oleh yang yang terkena diabetes meletus. Pil kina secara objektif dan umumnya adalah pahit. Meskipun pahit, ternyata  ia dicari-cari oleh orang yang terjangkit malaria. Rasa pahit hilang tergantikan oleh harapan akan kesembuhan.

Dengan demikian perasaan apapun terhadap ujian, pada akhirnya kembali kepada bagaimana sikap dan ketrampilan kita dalam menghadapinya. Siapapun yang ingin mmenikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia  harus terus menerus meningkatkan ilmu dan ketrampilan dirinya dalam menghadapi aneka ujian yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya. Sebagai gambaran, kalau kita adalah siswa SMA, tentu soal ujian kita lebih berat bobotnya dari pada siswa SMP. Begitu juga kelak  ketika kita belajar di Perguruan Tinggi, maka bobot soal ujian kita lebih berat dari pada ketika kiita masih di SMA. Yang demikian adalah suatu keniscayaan.

Sebenarnya apa saja yang Allah berikan kepada manusia, termasuk ujian, bukan untuk kepentingan Allah SWT. Melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiiri, agar nyata diantara kita mana yang terbaik, sehingga mampu menjadi uswah bagi yang lainnya . Perhatikan QS. Al-Mulk(67):1-2.

Artinya : “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun .

Adanya ujian menjadiakan manusia saling berkompetiisi.Karena yang dicari adalah yang terbaik, maka kompetisi harus dilakukan secara jujur, fair dan sehat. Bagaimana mungkin akan muncul hasil yang terbaik, jika dilakukan dalam kompetisi yang tidak jujur, fair dan sehat.Tapi ingat, ini adalah pertanyaan  dan kekhawatiran manusia saja. Tidak mungkin akan muncul hasil yang manipulative dari di ajang kompetisi ini, karena jurinya adalah Allah  Yang Maha Menilai.

Mudah  saja bagi Allah berbuat apa saja bagi makhlukNya, termasuk manusia. Sebenarnya Allah sudah mengetaui siapa yang terbaik diantara kita, tetapi Allah hanya ingin kita berkompetisi secara fair dan berproses menggapai tujuan secara sehat. Dengan cara inilah manusia diharapkan meramaikan bumi sebagai tugas khalifah di bumi. Perhatikan penggalan QS. AL-Maidah (5):48….

Artinya : “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”

Lucu ya, wong sudah tahu hasilnya, tapi kok masih diadakan kompetisi. Seperti sandiwara saja. Ya memang inilah model kehidupan yang lucu, seperti main-main dan penuh sandiwara. Hanya akhiratlah yang tidak seperti itu. Ini bukan semata-mata kesimpulan akal manusia tetapi  memang telah disampaikan Allah  SWT dalam QS.Al-An’am(6):32

Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Kalau dunia ini digambarkan sebagai panggung sandiwara, maka sebenarnya tugas manusia hanyalah memainkan peran  masing-masing sebaik mungkin. Kalau peranmu adalah guru , maka jadilah guru yang baik. Jaadikan anak-anak didikmu sebagai anak ruhanimu. Kalau peranmu adalah siswa maka jadilah siswa yang yang baik. Laksanakan tugas dan kewajibanmu, sehingga engkau mampu menapaki tahapan-tahapan pendidikan dengan baik pula.

Tetapi ingat, sebaik-baik kita menjalankan peran-peran yang melekat pda diri kita jangan sampai kita terkecoh, bahkan tergelincir menjadikan peran itu sebagai tujuan akhir. Peran itu tempatnya di dunia , padahal  tujuan akhir kita bukan di dunia. Tujuan kita adalah akhirat. Tujuan kita adalah Allah SWT.

Kalau begitu bagaimana ? caranya adalah mentransendensikaan semua peran itu kepda Allah SWT. Tanamkan dalam hati kita bahwa yang membuat peran adalah Allah. Tugas kita adalah menjalankan peran itu sebaik-baiknya untuk Allah, karena ini perintahNya, bukan semata-mata agar berprestasi, agar lulus ujian,  diterima di Perguruan Tinggi Favorit dan lain-lain. Mengapa ?. Karena prestasi, lulus ujian dan hasil-hasil duniawi lainnya pada hakekatnya berasal dariNya, bukan semata-mata hasil karya kita sendiri.

Siapa yang membuat kita bisa belajar? Siapa yang membuat kita bisa berfikir? Siapa yang membuat kita bisa mengerjakan soal-soal ujian? Siapa yang bisa membuat kita bisa menggerakakn pesil untuk menuliskan jawaban ? Kalau kita mau merenung dan jujur menjawab, pasti jawabannya adalah Allah. Inilah bukti segala yang kita  upayakan berasal dari Allah.

Dengan komitmen ini maka hidup kita akan tetap berada dalam lingkaran naungan Allah SWT.yakni dari Allah, oleh Allah dan untuk Allah. Kita tanggal ego (keakuan) kita, untuk kemudian kita sandarkan kepadaNya. Tak pantas bagi kita menjalankan peran dengan mengunggulkan keakua (ego) kita masing-masing. Amat lancing kita ucapkan dari aku oleh aku untuk aku, padahal kita sadar bahwa Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim (tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung).

Dengan komitmen itu pula ketika kesuksesan menghampiri kita tadak akan mudah tergelincir pada kekufuran, sebab kita menyandarkannya kepada Allah. Dengan penuh rendah diri dan hati dei hadapan Allah kita ucapkan  “…. Ini adalah karunia Tuhanku yang diturubkan untuk mengujiku , apakah aku mau bersyukur atau mengingkarinya”. QS. An-Nam (27): 40)

Artinya : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Jika kegagalan atau segala yang tidak menyenangkan menghampiri, maka kita tidak mudah berburuk sangka kepada Allah SWT. Ini adalah sarana intrukspeksi diri. Atau mungkin kita sudah serius dalam menjalankan peran. Tapi Allah menhendaki lain. Dalam kondisi seperti ini hiburlah hati dengan membaca dan menghayati bacaan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun.Berbaik sangkalah bahwa Allah memilki grand scenario tersendiri buat kita. Menerima kenyataan seperti ini tidaklah mudah.

Kalimat Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun ( istirja’) di atas bukan sekedar ucapan lisan, tetapi wujud penghayatan yang mendalam, sehingga membangkitkan semangat juang yang berkobar-kobar. Bukan sebaliknya, menandakan kegalauan hati dan putus harapan dari rahmat Allah. Seandainya malaikat maut menjemputnya dalam kondisi seperti iitu, maka tiada sia-sialah, karena telah mengapai cita-cita mulia sebagai golongan Syuhada’ . QS. Muhammad(47):31 …………………………

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Untuk memahami kalimat istirja’,mari kita ingat kembali memori lama . Pasti kita mngingtnya. Kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian. Namun setelah waktu berlalu ternyata kejadian tersebut begitu mengntungkan dan membawa hikmah ayang sangat besar dan angat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita siapkan mental. Siap menghadapi yang cocok dengan keinginan  kita dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan yang diinginkan. Siap sukses dan  siap gagal.

Kia memang diharuskan memiliki keinginan, cita-cita, rencana  yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi kehidupan dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah berikan kepada kita. Bersama dengan itu kita pun harus sadar sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.

Kita memang punya rencana Allah swt. Juga pun punya rencana. Yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT. Tiada satu pun di dunia ini dan luput and mrucut dari rencaNya. Mari kita renungkan firman Allah QS.Ali Imran(3): 159 …………..

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Hati penuh

Bulatkan tekat, sempurnakan ikhtiar dan kuatkan do’a dengan penuh kekhusu’an serta Hati penuh Tawakkaltu ‘Alallah Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Sebagai penutup tulisan ini perhatikan dan hayati serta renungkan potongan Firman Allah QS. Al-Baqoroh(2): 216

Artinya : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Semoga Allah menempat kita pada pada kedudukan yang terbaik bagi-Nya. Amiiinn.

About the Author:

Leave a comment

Agenda

18 SEPTEMBER 2012:
Workshop media belajar berbasis TIK MGMP Bahasa Indonesia Kab. Jombang

10 SEPTEMBER 2012:
Workshop media belajar efektif "Optimalisasi Power Point dan Sosialisasi Lectora"

5 SEPTEMBER 2012:
Workshop dan sosialisasi media belajar berbasis TIK (Lectora) di SMA
Negeri 1 Widang-Tuban

JULI 2012:
Workshop media belajar efektif di SMAM 2 Jombang

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Visitor