Mar
31
2012

BUDAYA LOKAL MERAJUT DAMAI DALAM KERAGAMAN

Indonesia adalah bangsa yang besar. Keanekaragaman budaya, suku, bahasa, dan agama salah satu bukti besarnya bangsa ini. Bukan hanya itu, bangsa ini juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Slogan-slogan tentang besarnya bangsa ini banyak kita temui seperti “gemah ripah loh jinawi” atau slogan yang umum tentang bangsa ini diibaratkan dengan jamrud di khatulistiwa.

Keanekaragaman bangsa ini memberikan pilihan yang sulit.  Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa keragaman telah menjadi bagian sejarah dan realitas kehidupan kemanusiaan yang tidak bisa dihindarkan. Keanekaragaman budaya, suku, dan agama yang ada di Indonesia tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab konflik. Gesekan-gesekan yang terjadi antar kelompok menjadi awal lahirnya konflik yang mengarah kepada menurunnya kesadaran berbangsa dan bernegara yang bhineka tunggal ika.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa konflik yang bernuansa keanekaragaman sering terjadi di Indonesia.  Kasus pembakaran rumah ibadah di Situbodo tahun 1997, Tasikmalaya, kasus di Sambas tahun 1999, kasus di Sampit tahun 2001, Halmahera pada tahun 2002, konflik Poso pada Desember 2003, dan perang antar suku di Papua yang terjadi sampai saat ini. Kasus-kasus tersebut sebagian besar melibatkan unsur agama dan perbedaan budaya yang ada di dalamnya.

Konflik-konflik yang muncul dimungkinkan terjadi akibat persaingan yang terlalu menonjol dibandingkan dengan sikap menyadari adanya perbedaan. Hal lain yang menyebabkan konflik ini adalah hal-hal sepele yang mengabaikan kepentingan umum. Sehubungan dengan hal tersebut menghindari konflik atau mewujudkan kerukunan dalam keragaman ini merupakan nilai universal. Nilai-nilai universal  ini diharapkan mampu menciptakan situasi kehidupan yang menempatkan keragaman bisa berdampingan secara damai, saling menghormati, saling toleransi, dan bekerjasama dalam menangani persoalan kemanusiaan.

Bentuk usaha untuk menghindari konflik atau mewujudkan kerukunan dalam keragaman itu tentunya ada dengan upaya saling mengenal di antara kelompok-kelompok tersebut melalui dialog budaya. Dialog ini akan membawa keterbukaan di antara masing-masing kelompok sehingga akan terhindar dari prasangka-prasangka yang bersifat negatif.

Dialog budaya antar kelompok-kelompok yang ada sebagai usaha menciptakan suasana kondusif merupakan hal yang efektif. Dialog tersebut bisa dimunculkan secara alami melalui perayaan-perayaan bersama  sebagai mekanisme pendingin ketegangan. Sesungguhnya ada banyak mekanisme sosial yang secara tradisional bisa berfungsi sebagai shockbreaker. Kalau kita lihat di desa-desa, ada upacara desa, baik yang informal seperti tradisi panen raya,  maupun yang formal seperti 17 Agustusan. Itu semua merupakan kesempatan dan cara masyarakat untuk saling memahami tradisi masing-masing[1].

Tradisi-tradisi pada masing-masing komunitas merupakan keunggulan budaya bangsa Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dengan proses lahirnya bangsa dan negara Indonesia itu sendiri. Sejak  diproklamasikan menjadi negara merdeka pada tanggal  17 Agustus 1945, sejak saat itu lahir pula kebudayaan bangsa atau kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan nasional menjadi acuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,  dan bernegara. Kebudayaan nasional menjadi ciri dan identitas jati diri bangsa Indonesia dan oleh sebab terus dipelihara dan dikembangkan sebagai bentuk pelestarian kebudayaan[2].

Makna pelestarian kebudayaan tidak dalam arti menjaga keaslian, tetapi bersifat dinamis. Pelestarian dalam arti dinamis meliputi empat unsur, yaitu pembinaan, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan[3].  Yang dimaksud dengan pembinaan ialah upaya  peningkatan   kemampuan kecerdasan, kepribadian, kreativitas dan keterampilan pemilik dan pendukung kebudayaan bangsa.  Perlindungan kebudayaan ialah menjaga, memelihara, dan merawat kebudayaan agar tidak rusak, punah, atau hilang yang disebabkan oleh alam, hewan atau tangan manusia. Sementara itu, yang dimaksud dengan pengembangan kebudayaan ialah meneliti, menggali, dan mengkaji kebudayaan untuk mengembangkan teori kebudayaan atau untuk memperkaya makna kebudayaan yang sudah ada. Pemanfaatan kebudayaan dilakukan untuk membentuk watak dan jati diri bangsa, perekat persatuan bangsa, dan untuk menjalin persahabatan antarbangsa. Bentuk nyata pemanfaatan kebudayaan ini adalah dialog budaya.

Dialog budaya tidak hanya terlihat dalam bentuk komunikasi secara verbal tetapi lebih kepada hubungan yang tampak dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Hal tersebut memungkinkan adanya jangka waktu yang panjang dalam hubungan komunikasinya.

Dialog budaya antar ummat beragama di daerah Jombang, Jawa Timur tampak pada kegiatan budaya lokal setempat. Dialog budaya dalam bentuk budaya lokal ini membangun historis positif dalam kehidupan beragamanya. Sebagai daerah yang memiliki salah satu gereja tertua di Jawa dan terkenal dengan kota 1001 pesantren, sampai saat ini belum pernah mengalami konflik yang berbau SARA. Budaya lokal yang menjadi dialog budaya pada daerah ini adalah tradisi panen raya.

Tradisi panen raya di Jombang tepatnya di Mojowarno di sebut dengan unduh-unduh. Tradisi ini sudah terlaksana sejak 129 tahun. Ritual seperti ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur untuk menyambut datangnya musim panen pertama dan merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pertanian masyarakat wilayah Kecamatan Mojowarno. Tradisi ini, seperti tahun-tahun sebelumnya dipusatkan di GKJW Mojowarno, yang merupakan salah satu gereja tertua di Jawa. Sejak seminggu sebelum acara ini digelar, juga diadakan pameran atau bazar di lapangan sebelah bangunan gereja, yang pesertanya dari masyarakat umum, bahkan didomiasi dari para pelaku UMKM muslim yang ada di Jombang. Tentu ini sebuah “dialog ekonomi” dan “dialog sosial” yang baik di antara pemeluk agama yang berbeda. Hasil bumi tersebut selanjutnya dilelang dan uang hasil pelelangan akan disumbangkan kepada warga miskin.

Dialog budaya sangat tampak pada tradisi unduh-unduh. Kegiatan yang sangat identik dengan ritual agama tertentu ini menjadi sebuah tradisi budaya lokal yang menarik. Jauh sebelum kegiatan berlangsung dibentuk panitia yang di dalamnya tidak hanya terdiri atas ummat kristiani tetapi banyak juga melibatkan ummat muslim. Hal tersebut yang menjadikan budaya lokal ini tetap bertahan hingga sekarang, tetap semarak, tetap aman, meskipun berada di Kota Santri, Kota 1001 Pesantren.

Jadi, bentuk dialog budaya alami yang tercermin dalam budaya lokal unduh-unduh inilah yang membawa keragaman menjadi indah.  Kegiatan tersebut akan membawa pada kesadaran berbhineka tunggal ika sekaligus menempatkannya sebagai khasanah bangsa yang perlu dijaga.


[1] Paul Makugoro, Meredam Konflik di Indonesia, (http://reformata.com/news/view/), (diakses tanggal 4 November 2011).

[2] Edi Sedyawati, Kebudayaan dan Agama, (Jurnal Depdikbud: Jakarta, 2007), hal.9.

[3] _______, Op.Cit. hal. 19.

About the Author:

Leave a comment

Agenda

18 SEPTEMBER 2012:
Workshop media belajar berbasis TIK MGMP Bahasa Indonesia Kab. Jombang

10 SEPTEMBER 2012:
Workshop media belajar efektif "Optimalisasi Power Point dan Sosialisasi Lectora"

5 SEPTEMBER 2012:
Workshop dan sosialisasi media belajar berbasis TIK (Lectora) di SMA
Negeri 1 Widang-Tuban

JULI 2012:
Workshop media belajar efektif di SMAM 2 Jombang

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Visitor